Membangun Disiplin Sekolah dengan Keteladanan, Bukan Kebisingan

Oleh : Nanang Wiwit Sinudarsono, S.Pd, Gr.

Ada hal sederhana yang sebenarnya dapat menjadi cermin budaya disiplin di sebuah sekolah: ketika guru sudah berada di dalam kelas, siswa dengan sendirinya masuk dan mengikuti pembelajaran.

Kedisiplinan tidak selalu harus dibangun melalui suara pengeras yang terdengar hingga ke lingkungan sekitar. Sekolah yang memiliki budaya disiplin semestinya mampu menciptakan keteraturan melalui kebiasaan, keteladanan, sistem yang baik, dan kesadaran bersama.

Ketika guru sudah berada di dalam kelas sesuai jadwal, keberadaan guru itu sendiri seharusnya menjadi pesan yang cukup bagi siswa bahwa pembelajaran akan segera dimulai. Siswa mengetahui bahwa waktunya berada di kelas bukan karena berkali-kali diingatkan melalui pengeras suara, melainkan karena telah tumbuh kesadaran untuk menghargai waktu belajar.

Disiplin Bukan Sekadar Menunggu Perintah

Pengeras suara tentu memiliki fungsi penting di lingkungan sekolah. Ada informasi tertentu yang memang perlu disampaikan kepada seluruh warga sekolah.

Namun, penggunaannya perlu ditempatkan secara proporsional.

Jika setiap pergantian jam pelajaran harus selalu disertai pengumuman melalui pengeras suara agar siswa masuk kelas, barangkali kita perlu melakukan evaluasi sederhana: apakah yang sedang dibangun adalah kedisiplinan atau sekadar kepatuhan karena diperintah?

Pendidikan sejatinya tidak hanya mengajarkan siswa melakukan sesuatu ketika diperintah. Pendidikan harus membentuk kemampuan siswa untuk mengetahui apa yang harus dilakukan, kapan harus melakukannya, dan melakukannya tanpa harus selalu diperintah.

Siswa yang sudah terbiasa masuk kelas ketika waktunya tiba sedang belajar tentang tanggung jawab.

Sebaliknya, jika setiap aktivitas harus selalu menunggu instruksi, ada kemungkinan yang tumbuh bukan kesadaran, melainkan ketergantungan terhadap perintah.

Ketika Guru Berhalangan, Sistem Harus Tetap Berjalan

Bagaimana jika kelas kosong karena guru sedang izin atau berhalangan hadir?

Tentu kondisi seperti itu bisa terjadi. Guru juga memiliki tugas kedinasan, kegiatan sekolah, kepentingan tertentu, maupun keadaan yang membuatnya tidak dapat masuk kelas.

Namun, kondisi tersebut semestinya tidak membuat sistem sekolah ikut berhenti.

Di sinilah pentingnya guru piket atau mekanisme pengganti. Ketika guru mata pelajaran berhalangan hadir, sekolah harus memiliki sistem yang memastikan siswa tetap mendapatkan arahan, pendampingan, dan pengawasan.

Guru piket dapat mengarahkan siswa menuju kelas. Wali kelas dapat melakukan koordinasi. Pihak sekolah dapat memastikan jam kosong tetap berada dalam pengawasan.

Dengan demikian, persoalan siswa yang belum masuk kelas dapat diselesaikan melalui sistem internal sekolah tanpa harus selalu mengandalkan pengeras suara.

Ini bukan berarti pengeras suara tidak boleh digunakan. Tentu boleh.

Tetapi pertanyaannya adalah: apakah setiap persoalan kedisiplinan harus diselesaikan dengan pengeras suara?


Jawabannya tentu tidak.

Guru Adalah Teladan Pertama

Budaya disiplin akan jauh lebih kuat apabila dimulai dari keteladanan guru.

Guru yang datang tepat waktu mengajarkan ketepatan waktu.

Guru yang masuk kelas sesuai jadwal mengajarkan tanggung jawab.

Guru yang menghargai waktu belajar mengajarkan siswa untuk menghargai proses pendidikan.

Guru yang mampu menciptakan ketertiban tanpa harus berteriak sedang memberikan pelajaran karakter yang mungkin jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat.

Karena siswa tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan guru, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Maka, keteladanan sering kali lebih efektif daripada instruksi yang berulang-ulang.

Sekolah Juga Bagian dari Lingkungan Sosial

Ada aspek lain yang tidak kalah penting, yaitu keberadaan sekolah sebagai bagian dari lingkungan masyarakat.

Sekolah tidak berdiri di ruang hampa. Di sekelilingnya ada rumah warga, tempat ibadah, fasilitas umum, dan masyarakat yang juga membutuhkan suasana yang nyaman.

Karena itu, penggunaan pengeras suara sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan, waktu, volume, kepantasan, dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

Informasi penting tentu perlu disampaikan. Namun, jika sesuatu dapat diselesaikan melalui komunikasi langsung antara guru, siswa, guru piket, dan wali kelas, tidak selalu harus disampaikan dengan suara keras yang terdengar hingga keluar lingkungan sekolah.

Sekolah seharusnya menjadi contoh bahwa ketertiban dapat dibangun tanpa menciptakan kebisingan.

Membangun Siswa yang Sadar, Bukan Sekadar Patuh

Tujuan akhir pendidikan bukanlah menciptakan siswa yang bergerak hanya ketika diperintah.

Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang memiliki kesadaran.

Ketika bel berbunyi, siswa tahu bahwa waktunya belajar.

Ketika guru masuk kelas, siswa mengikuti.

Ketika guru berhalangan hadir, guru piket mengambil peran.

Ketika ada kelas yang membutuhkan pengawasan, sistem sekolah bekerja.

Semua berjalan karena ada budaya, bukan semata-mata karena suara pengeras.

Inilah yang sebenarnya ingin kita tanamkan kepada anak-anak: disiplin bukan karena takut ditegur, tetapi karena sadar bahwa ada tanggung jawab yang harus dijalankan.


Tidak Perlu Lebih Keras, Tetapi Lebih Teratur

Barangkali sudah waktunya kita melihat kedisiplinan sekolah dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Bukan tentang seberapa keras suara yang terdengar dari pengeras suara.

Bukan pula tentang seberapa sering siswa diingatkan.

Tetapi tentang seberapa kuat sistem dan budaya sekolah membuat seluruh warga sekolah memahami apa yang harus dilakukan.

Jika guru sudah berada di kelas, siswa seharusnya masuk dengan sendirinya.

Jika guru berhalangan, ada guru piket atau mekanisme pengganti yang menjalankan fungsi pengawasan.

Jika ada informasi penting, pengeras suara digunakan secara tepat.

Dengan pola seperti itu, sekolah tidak hanya menciptakan suasana yang tertib bagi siswa, tetapi juga menunjukkan penghormatan kepada masyarakat di sekitarnya.

Sebab pendidikan yang baik bukan hanya mengajarkan anak untuk tertib, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi tertib tanpa mengganggu orang lain.

Pada akhirnya, sekolah yang maju bukan sekolah yang paling sering terdengar suaranya, melainkan sekolah yang paling terasa budaya tertib, nyaman, dan keteladanannya.

Karena ketika disiplin sudah menjadi budaya, tidak perlu suara yang keras untuk membuat orang bergerak. Kesadaranlah yang akan menggerakkannya.

Posting Komentar

Semua Bentuk Komentar menjadi tanggung jawab masing-masing!!

Lebih baru Lebih lama